Sabtu, 06 November 2010

Inilah Penyebab Tsunami Dahsyat Aceh 2004

Share

Studi baru di Jurnal Science edisi 9 Juli mengungkap penyebab tsunami dahsyat di Aceh 2004. Seperti apa? Dampak gempa ternyata jauh di dasar laut, sehingga seperti dayung raksasa bawah air yang menciptakan tsunami sangat besar. Kehancuran tsunami ditemui di sepanjang garis pantai Samudera Hindia dengan gelombang tsunami hingga setinggi 30 meter. Lebih dari 230 ribu orang tewas dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

Tiga bulan selanjutnya yakni pada 2005, gempa berkekuatan 8,7 SR terjadi di wilayah selatan tapi menyebabkan tsunami lebih kecil meskipun juga menewaskan 1.300 orang. Ilmuwan sebelumnya berdebat mengapa gempa itu memproduksi tsunami dengan level berbeda, meskipun segmen penyebab gempa berada di wilayah berdekatan, patahan di kerak bumi.

"Kedua gempa bumi berada di sistem sesar yang sama, di mulai dari 30 hingga 40 km di bawah dasar laut,” ujar ahli geologi dan peneliti studi ini, Simon Dean dari University of Southampton di Inggris. "Kesimpulan kami dapat membantu memahami mengapa perbedaan bagian dari patahan dapat membedakan gempa di mana berdampak pada terciptanya tsunami. Ini sangat penting bagi peringatan dini sebelum gempa dan mitigasi.”

Ilmuwan menggunakan instrumen seismik untuk menyelidiki lapisan sedimen di bawah dasar laut dengan gelombang suara. Hasilnya mengungkapkan bahwa kejadian pada 2004 disebabkan perbedaan kepadatan zona sesar lapisan rendah yang menyebabkan pergerakan bebatuan di sekitarnya. Ini juga yang menyebabkan terjadinya pergerakan yang lebih dekat ke dasar laut pada gempa pertama.

Tidak hanya itu, dalam segmen lapisan yang bergerak pada 2005, tidak ada bukti adanya zona sesar dengan kepadatan rendah sehingga ini yang menjadikan tsunami yang muncul lebih kecil. Ilmuwan menemukan sejumlah fitur tidak biasa di zona gempa tahun 2004 seperti topografi dasar laut, cacat sedimen, serta lokasi gempa bumi susulan setelah gempa utama. Sementara Sumatera cukup sering mengalami gempa karena terletak di dekat perbatasan dua lempeng tektonik bumi.

Gempa bumi terjadi pada apa yang dikenal sebagai zona subduksi, seperti di kawasan barat Indonesia di mana satu lempeng tektonik dipaksa masuk ke lempang lain. Alih-alih melintasi satu dengan yang lain secara lancar, gerakan itu malah menciptakan energi sehingga dua lempeng akan slip atau pecah dan melepaskan energi yang disimpan sebagai gempa bumi.

Dengan membandingkan zona subduksi di wilayah barat Indonesia dengan zona subduksi lain di seluruh dunia, tim peneliti percaya bahwa wilayah gempa bumi di Sumatera pada tahun 2004 sangat tidak biasa sehingga menimbulkan tsunami yang lebih tinggi di kawasan ini. "Dengan memahami parameter yang membuat kawasan tertentu lebih berbahaya dalam hal gempa bumi dan tsunami maka kita dapat mengetahui potensi bahaya di kawasan lain,” ujar penulis bersama studi ini, Sean Gulick dari University of Texas, Austin.

“Kita perlu memeriksa apa yang membatasi ukuran gempa bumi dan sifat apa saja yang berkontribusi dalam pembentukan tsunami,” kataya. [inilah.com]
http://www.agusta27.info

Gempa Berayun Penyebab Tsunami di Mentawai

MENTAWAI--MICOM:Tsunami yang melanda Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, disebabkan oleh slow earthquake atau gempa dengan guncangan berayun meski berkekuatan 7,2 skala Richter (SR).

"Guncangan gempa itu dirasakan berayun oleh warga dan tidak menyebabkan kerusakan banyak bangunan. Jadi gempa tersebut tidak seperti ciri-ciri akan terjadi tsunami," kata Kepala Pusat Informasi Riset Bencana Alam Kementerian Riset dan Teknologi Pariatmono di Sikakap, Mentawai, Sabtu (6/11).

Karena guncangannya berayun tidak membuat warga segera menyelamatkan diri. Apalagi, ujarnya, pada 2007 terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar di Mentawai dan tidak menyebabkan tsunami.

Menurutnya, gempa Mentawai, Senin (25/10), memang tidak menunjukkan sebagai gempa yang akan menimbulkan tsunami. Sebab, selama ini informasi disosialisikan gempa berkekuatan besar yang merusak yang menyebabkan tsunami.

Ia menyebutkan, kejadian di Mentawai hampir sama dengan tsunami di Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat. Goyangan gempa berayun, tapi menimbulkan tsunami. Dengan pengalaman seperti itu, ke depan peringatan akan terjadinya tsunami bagi masyarakat pesisir pantai Mentawai lebih baik mengandalkan tradisi lokal dan tidak harus menunggu instruksi pemerintah. (Ant/OL-01)
http://www.mediaindonesia.com

Erupsi Merapi Tahun Ini Terburuk dalam100 Tahun Terakhir

Kamis, 4 November 2010 19:14 WIB

Letusan merapi

Yogyakarta, (tvOne).

Erupsi Merapi yang terjadi pada tahun ini merupakan bencana terburuk Merapi dalam kurun waktu 100 tahun atau sejak 1870, seperti dikatakan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Erupsi Merapi tahun ini dapat dikatakan terburuk sejak 1870 karena saat ini sebanyak 32 desa dengan jumlah penduduk lebih dari 70.000 jiwa direkomendasikan harus mengungsi karena berada dalam zona berbahaya," kata Surono didampingi Kepala Badan Geologi Sukhyar di Yogyakarta, Kamis, (4/11).

Menurut Surono, sebanyak 32 desa yang direkomendasikan mengungsikan warganya terdiri atas 17 Desa di Kabupaten Magelang, Klaten empat desa, Boyolali tiga desa dan di Kabupaten Sleman ada delapan desa.

"Saat ini Gunung Merapi dalam kondisi krisis, selain ditandai dengan letusan ekplosif jarak luncur awan panas terjauh mencapi 11,5 Kilometer (Km) di kali Bebeng dan di tempat lain jarak luncur awan panas mencapi 11 Km di Kali Putih, 10 Km di Kali Boyong dan 9,5 Km di Kali Gendol," katanya.

Surono mengatakan, awan panas yang keluar dari puncak Merapi saat ini juga sudah mencapai ketinggian lebih dari 10 Km. "Ini kejadian yang mungkin baru kami alami sejak dari catatan sejarah 1870-an," katanya. (Ant)

http://nasional.tvone.co.id

Kronologi Meletusnya Gunung Merapi

Sleman, (tvOne)

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Selasa (26/10) menyatakan Gunung Merapi meletus sejak pukul 17.02 WIB dengan mengeluarkan awan panas.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Mineral di Kantor BPPTK, Surono mengungkapkan, letusan ditandai dengan suara gemuruh pada pukul 18.45 WIB dengan dentuman sebanyak tiga kali.

Menurut Surono, dari pos pengamatan di kawasan Selo, nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 kilometer dari puncak gunung.

Energi letusan Merapi kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tahun sebelumnya seperti tahun 2006.

Merapi adalah nama sebuah gunung berapi di provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali.

Letaknya cukup dekat dengan Kota Yogyakarta dan masih terdapat desa-desa di lerengnya sampai ketinggian 1.700 meter. Bagi masyarakat sekitar, Merapi membawa berkah material pasir, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata bagi para wisatawan. Kini Merapi termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Seperti dikutip dari Wikipedia, Gunung Merapi adalah yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di bagian selatan Pulau Jawa.

Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusannya di tahun 1930 menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.

Letusan pada November 1994 menyebabkan hembusan awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban puluhan jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa.

Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus.

Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer, karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Selo, satu kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu rata-rata 5 jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak.

Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pada 8 Juni 2006, pukul 09.30 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman.

Pada tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km. (Ant)

http://nasional.tvone.co.id

22 Gunung berapi Indonesia mulai tak normal

BANDUNG: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat 22 gunung berapi di Indonesia yang saat ini statusnya meningkat di atas normal.

R. Sukhyar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, mengatakan gunung itu tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku-Halmahera.

"Pada level waspada, ada 19 gunung di antaranya Sinabung, Papandayan, Anak Krakatau, Bromo, Semeru, Batur, Rinjani, Soputan, dan Gamalama," katanya kepada wartawan di Bandung, hari ini.

Dia memaparkan pada level siaga terdapat di wilayah Halmahera, yaitu Gunung Ibu, dan Gunung Karangetang di Sulawesi.

Untuk gunung berstatus awas atau level paling tinggi sekaligus
berbahaya yakni Gunung Merapi yang beberapa hari lalu memuntahkan material panas.

Namun, Sukhyar menegaskan tidak ada hubungan atau keterkaitan antara gempa dan tsunami yang terjadi di Mentawai dengan meletusnya Gunung Merapi di Yogjakarta.

"Bencana di Mentawai tidak ikut memicu naiknya aktivitas di Gunung Merapi," ujar dia.

Terkait Gunung Merapi, papar dia, Badan Geologi merekomendasikan untuk tidak melakukan evakuasi terlebih dahulu, selama gunung masih menunjukkan aktivitas berbahaya.

"Evakuasi tidak kamki sarankan, dan tidak ada satu pun masyarakat yang boleh masuk ke wilayah yang terkena paparan material Merapi," jelas Sukhyar.

Dia menjelaskan volume material letusan Gunung Merapi yang termuntahkan mencapai 8,7 juta meter kubik, yang terdistribusikan sebanyak 6 juta meter kubik ke Kali Gendol.

Sisanya, menurut dia, terdistribusikan ke Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali
Bebeng, Kali Sat, dan Kali Lamat.

Gunung Merapi, ungkap dia, memuntahkan awan panas yang jangkauannya mencapai 7 km, sedangkan debu panas yang terbawa angin mencapai 20 km.

"Sejak 1786, Gunung Merapi telah mengalami letusan sebanyak 80 kali," ujar Sukhyar. (hwi)

http://www.bisnis.com

Letusan Gunung Berapi Tingkatkan Hujan di Asia Tenggara

Letusan Gunung Berapi Tingkatkan Hujan di Asia Tenggara

Singapura (ANTARA/Reuters) - Para ilmuwan mempelajari lingkaran pada pohon untuk memperagakan ulang masa lalu bahwa sebagian besar letusan vulkanik dapat meningkatkan curah hujan di Asia Tenggara sehingga menantang persepsi umum bahwa gunung berapi sebagai bencana penghancuran.

Sejumlah penelitian pada masa lalu telah memperlihatkan letusan dahsyat yang dialami oleh Gunung Tambora pada 1815 dan Krakatau pada 1883, yang keduanya berada di Indonesia, menurunkan suhu udara dunia dan melenyapkan pepohonan.

Para peneliti di Pusat Pengamatan Bumi Lamont-Doherty di Universitas Columbia di Amerika Serikat ingin meneliti beberapa dampak pada musim di Asia karena hujan merupakan hal yang penting bagi tumbuhan dan kehidupan miliaran manusia.

Upaya tunggal untuk mengetahuinya adalah dengan merunut ke masa lalu. Mereka mempelajari pertumbuhan lingkaran dari pepohonan yang umurnya telah beberapa abad dari sekitar 300 kawasan di penjuru Asia, demikian menurut sebuah penelitian yang disiarkan oleh edisi jurnal Geophysical Research Letters di dalam jaringan.

Mereka meneliti sejumlah dampak pada curah hujan dari kebanyakan 54 letusan pada 800 tahun lalu dengan mengukur pengaruh pertumbuhan pepohonan. Pertumbuhan lingkaran yang kecil dan tipis menunjukkan curah hujan yang kecil dan jika hal itu sebaliknya maka menunjukkan curah hujan yang besar.

Lingkaran pohon menunjukkan di kawasan besar China selatan, Mongolia, dan daerah sekitarnya secara tetap masih kering dalam satu atau dua tahun setelah letusan besar gunung berapi, sementara daratan Asia Tenggara mendapatkan curah hujan lebih banyak.

Letusan gunung berapi menyebarkan kandungan belerang yang berubah menjadi partikel sulfat mikroskopis di atmosfir yang tinggi sehingga membiaskan cahaya matahari mempengaruhi pendinginan suhu udara di bumi dapat bertahan selama beberapa bulan ataupun tahun.

Penyiaran penelitian tersebut hadir di saat serangkaian letusan gunung Merapi di Pulau Jawa, Indonesia, meletus kembali pada Jumat dengan jumlah korban hampir mencapai 100 orang.

Letusan tersebut, walaupun besar, belum dapat mempengaruhi suhu dunia, ujar sebuah keterangan media penelitian tersebut.

Kaitannya El Nino

Para peneliti yang diketuai oleh Kevin Anchukaitis dari badan pengamatan mengatakan, penelitian mereka tidak menilai kaitan erat antara atmosfir serta samudera dan juga tantangan peraga iklim yang ada.

"Kebanyakan peraga iklim yang ada menggabungkan gejala alam yang dikenal, seperti perubahan pada matahari dan atmosfir, telah memperkirakan bahwa letusan vulkanik dapat mengganggu musim dengan mengurangi jumlah curah hujan ke Asia Tenggara," ujarnya.

Sejumlah temuan, kata para peneliti, dapat membantu memperbaiki beberapa peraga berikutnya yang digunakan oleh para ilmuwan yang mencoba memahami beberapa dampak global dari perubahan iklim dan pengaruh besar lainnya.

Sebagai contoh, mereka menjelaskan bahwa mungkin terdapat kaitan erat antara dampak letusan dan fenomena cuaca El Nino serta La Nina yang memicu kemarau atau banjir di beberapa bagian Asia dan Australia.

Peristiwa cuaca El Nino atau La Nina yang kuat dapat menangkal dampak letusan, mengurangi pengeringannya dan memberikan efek yang melembabkan atau sebaliknya, yang dalam kondisi tertentu, hal itu dapat memperburuk dampak yang menimbulkan bencana banjir atau kemarau yang parah.

Para ilmuwan juga mengatakan bahwa penelitian mereka berguna sebagai peringatan atas kemungkinan dampak yang tidak disengaja mengenai rencana besar "perbaikan bumi" untuk mengurangi perubahan iklim, dengan membangun gunung berapi buatan yang bertujuan untuk mendinginkan suhu dengan memompa partikel sulfat ke atmosfir tertinggi.

http://id.news.yahoo.com

Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera

Kemarin lusa saat browsing ke kompas saya dapati berita pada hari Kamis tanggal 28 Mei, mengenai ditemukannya gunung api dibawah perairan barat Sumatera yang sangat besar dan tinggi hingga di sebut sebagai gunung api raksasa, duh! denger gunung aja dibayangan kita langsung mengarah pada tumpukan tanah yang sangat besar menjulang keatas, nah ini sudah gunung…raksasa pula! Sudah begitu pake Api! Asstagfirullah. Ini berita selanjutnya saya edit dari Kompas.com.

Pakar geologi dari Indonesia, AS dan Perancis yang tergabung dalam satu tim berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api raksasa ini mempunyai diameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan terletak 330 km arah barat kota bengkulu.

Menurut Yusuf Surachman Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT: tidak ada gunung yang setinggi dan sebesar ini selain Gunung Jayawijaya di Papua.

Namun sejauh ini belum dapat dipastikan tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini, walaupun memiliki kaldera sebagai ciri dari gunung api.

Jika gunung ini sampai meletus maka akan sangat berbahaya dan mengancam kehidupan manusia. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.

Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.

Fenomena apa ini yang sedang terjadi tentu munculnya gunung api raksasa ini bukanlah tanpa maksud, Subhanallah.

http://abibakarblog.com