Jumat, 02 Januari 2015
2013 Jadi Tahun Bencana
Tidak hanya kegaduhan politik yang harus diwaspadai tahun ini. Rentetan bencana alam juga mengancam. Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief mengungkapkan kemungkinan banyaknya bencana tanah longsor, gempa bumi, dan gunung meletus di Indonesia sepanjang tahun politik di tahun 2013 nanti. “Awas, jangan terlena dengan mood politik jelang Pemilu 2014. Bencana alam mengintai kita sepanjang 2013 ini,” kata Andi seperti dilansir indopos, Jumat kemarin.
Andi memaparkan, sejak Januari hingga awal Maret 2013 telah terjadi 34 kejadian bencana tanah longsor. 18 di antaranya terjadi wilayah Jawa Barat. Kejadian tanah longsor itu belum termasuk longsor di Cililin, Bandung, Jawa Barat, yang terjadi pada Senin (25/3) pukul 05.00 WIB.
Bencana longsor tersebut mengakibatkan kematian 12 orang. Sementara jumlah korban meninggal akibat tanah longsor selain di Cililin, sudah mencapai 47 jiwa. “Rinciannya 20 korban jiwa di Sumatra Barat, 14 orang di Sulawesi Utara, dan 13 warga di Jawa Barat. Jumlah tersebut mencapai lebih dari 25% dari jumlah kejadian serupa tahun lalu,” jelas Andi.
Tahun 2012, lanjut Andi, telah terjadi 124 kali bencana tanah longsor. Dari sejumlah kejadian tersebut, terdapat korban jiwa sebanyak 136 orang dan 122 orang mengalami luka-luk.
Sementara dari segi material, rumah rusak (ringan-menengah) mencapai 2.958 unit, rumah hancur 308 unit, rumah terancam terlanda longsor 808 unit, lahan pertanian rusak 1414,7 hektar, jalan terputus 6.750 meter, dan saluran irigasi terputus 1.705 meter. “Khusus untuk wilayah Jawa Barat, kejadian tanah longsor tahun lalu mencapai 62 kali dengan korban jiwa berjumlah 36 orang,” lanjutnya.
Di samping bencana longsor, Andi mengatakan masih ada bencana-bencana lain yang mengintai. Dia menguraikan, setidaknya terdapat lima gunung api dalam kondisi siaga dan 17 gunung api berstatus waspada.
Sementara patahan aktif darat maupun di zona subduksi masih menjadi ancaman karena siklusnya. “Selain itu, juga ada ancaman Megathrust Mentawai yang saat ini, sudah menjadi keputusan nasional untuk diantisipasi. Namun, kewaspadaan di zona lain patahan lempeng bumi juga tidak boleh berkurang,” katanya.
Menyoal upaya antisipasi, Andi menguraikan, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2012 dan menugaskan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyediakan peta rawan longsor.
Kementrian dan lembaga yang bersangkutan juga diminta menyosialisasikan kepada pemerintah daerah beserta masyarakatnya, menyampaikan peringatan dini bencana longsor, serta memantau daerah rawan longsor. “Aparat dan ahli di Kementerian ESDM tentu tidak bisa berjalan sendirian. Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, kabupaten, gubernur, bupati, camat, sampai pengurus rukun tetangga (RT) harus bahu membahu melakukan langkah-langkah mitigasi kepada masyarakat di daerah kerentanan tanah tinggi. Di samping itu bantuan relawan cukup penting membantu mitigasi,”imbuh dia. (h/ken)
Sumber : http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=22264:2013-jadi-tahun-bencana&catid=52:sigab&Itemid=182
BENCANA ALAM DI INDONESIA TAHUN 2013
“Daerah-daerah yang rawan terhadap gempa bumi dan tsunami ya sepanjang jalur subduksi pertemuan lempeng tektonik, yaitu sepanjang barat Sumatra Barat, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sampai dengan Papua bagian utara, Halmahera dan Sulawesi Utara,” ujarnya.
Untuk daerah-derah banjir, tambahnya, adalah sepanjang timur pantai Sumatra, pantai utara Jawa, sebagian selatan Jawa dan sebagainya.
“Ada sekitar 240 kabupaten/kota yang rawan banjir. Kemudian puting beliung, kalo kita liat di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) ada yang zona merah dan ada yang zona sedang. Kemudian kalau yang longsor ada di wilayah-wilayah yang memiliki topografi cukup tinggi seperti di Bogor, Cianjur dan sebagainya,” kata Sutopo.
Ia menambahkan, 233 kabupaten/kota di seluruh Indonesia rawan tsunami, namun demikian potensi bencana tersebut sangat tergantung dari efek kekuatan gempa bumi yang terjadi.
Untuk letusan gunung berapi, Sutopo menjelaskan, saat ini ada enam gunung yang berstatus Siaga/Level 3. Gunung-gunung tersebut adalah Raung di perbatasan kabupaten Banyuwangi-Bondowoso-Jember, Jawa Timur; Rokatenda di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur; Sangeangapi di kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat; Lokon di kota Tomohon, Sulawesi Utara; Karang Etang di kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara; dan Ijen di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Sutopo mengatakan banjir dan longsor berpotensi terjadi hingga Maret 2013, dengan puncaknya pada Februari.
Untuk melakukan antisipasi penanggulangan bencana, Sutopo menjelaskan, BNPB akan menjalankan empat program pelaksanaan Masterplan Tsunami mulai awal 2013.
“Dalam masterplan pengurangan resiko bencana yang kita mulai 2013 nanti, akan dipasang atau ditambahi beberapa instrumen alat deteksi gempa bumi tsunami di beberapa wilayah yang berpotensi dua hal itu, termasuk pemasangan sistem peringatan dini dengan berbasis komunitas,” ujarnya.
Sutopo menambahkan, dana yang disediakan untuk antisipasi bencana pada 2013 adalah Rp 1 triliun, sedangkan kebutuhan total untuk masterplan yang mencakup seluruh wilayah rawan tsunami di Indonesia mencapai Rp 16,7 triliun untuk lima tahun ke depan.
Oleh karena itu, ujar Sutopo, pelaksanaan antisipasi bencana pada 2013 diprioritaskan pada daerah-daerah rawan Tsunami seperti Mentawai, Sumatra Barat; kawasan Selat Sunda; pantai Selatan Jawa; pantai Selatan Bali; Nusa Tenggara dan Papua.
Manajer penanganan bencana Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nasional Mukri Friatna kepada VOA menjelaskan antisipasi penanggulangan bencana, bukan hanya dengan memasang sistem peringatan dini di wilayah rawan gempa dan Tsunami.
“Saya kira yang perlu dibangun adalah kesiapsiagaan warga di sepanjang pantai selatan, yang diperkirakan terjadi gempa dan berpotensi tsunami, itu yang perlu didorong,” ujarnya.
“Kalau hanya menyiapkan alat early warning system saja itu tidak cukup. Contohnya yang terjadi di Padang beberapa waktu lalu, kemudian di Selat Sunda, alat early warning system pernah rusak karena kurangnya kontrol. Ini berbahaya kalau hanya mengandalkan alat, tanpa memberdayakan masyarakat setempat.”
Selain itu, tambah Mukri, pemerintah perlu lebih serius dalam menangani masa darurat bencana, khususnya menyangkut lokasi dan tempat pengungsian, makanan, dan obat-obatan serta tenaga medis agar perangkat pemerintah di daerah setempat lebih siap jika terjadi bencana. Dan tidak harus menunggu instruksi dari pemerintah pusat, ujarnya.
Data dari BNPB menunjukkan Indonesia menghadapi setidaknya 730 bencana alam pada 2012 yang merenggut 487 jiwa, menyebabkan 675.798 orang mengungsi dan 33.847 rumah rusak -- 7.891 diantaranya rusak berat.
Bencana alam sepanjang 2012 didominasi oleh bencana hidrometeorologi yaitu putting beliung (259 kejadian/36 persen), banjir (193 kejadian/26 persen), dan longsor (138 kejadian/19 persen).
Sutopo dari BNPB menyebutkan, kejadian putting beliung meningkat setiap tahun, naik 28 kali lipat selama 2002 sampai 2011.
Usaha yang dilakukan untuk membantu korban:
1. Bantuan Relokasi Sementara
Bagi yang kehilangan tempat tinggal atau yang tidak memungkinkan tinggal di rumahnya, maka perlu diberi tempat tinggal sementara yang layak. Misalkan saja di setiap kota dan kabupaten dibuat suatu apartemen atau mess khusus untuk tempat mengungsi bagi korban bencana. Tentu saja di tempat asal korban tetap dibuat tempat pengungsian layak bagi kepala rumah tangga dan laki-laki yang ingin menjaga aset yang di lokasi bencana.
2. Bantuan Kebutuhan Pokok
Kebutuhan pokok sehari-hari harus dapat dipenuhi dengan baik seperti makan minum, mandi cuci kakus (mck), sandang pakaian, dan tempat tinggal. Kegagalan memenuhi kebutuhan pokok ini akan membawa dampak buruk seperti penyebaran penyakit berbahaya, perkelahian, kerusuhan, perampasan, penjarahan, bahkan kematian.
3. Bantuan Peralatan Darurat
Banyak sekali peralatan dan perlengkaan yang dibutuhkan korban bencana untuk dapat bertahan hidup seperti tenda darurat, peralatan masak, genset listrik, lampu darurat, alat-alat berat untuk evakuasi korban, pompa air darurat, peralatan medis, selimut, peralatan makan minum, dan lain sebagainya.
4. Bantuan Perbaikan Fisik
Segala kerusakan aset pribadi (rumah) dan fasilitas umum (jalan, jembatan, jaringan listrik, jaringan telepon, saluran air, dan lain sebagainya harus kita bantu semaksimal mungkin untuk mendapatkan perbaikan yang cepat, terutama fasilitas umum dan fasilitas sosial. Dengan kembalinya fasum, fasos dan rumah warga maka kehidupan dapat kembali normal.
5. Bantuan Bimbingan Konseling, Rohani dan Moral
Dengan adanya bencana bisa menyebabkan orang menjadi stres, depresi dan juga gila. Yang tidak stress pun juga harus kita berikan dukungan moril agar dapat membantu meningkatkan semangat para korban bencana agar kuat menghadapi cobaan dan siap kembali hidup seperti sedia kala.
6. Bantuan Transportasi
Untuk menyalurkan bantuan untuk korban bencana, untuk memindahkan korban bencana dari satu tempat ke tempat lain, untuk membawa peralatan serta perlengkapan bencana dibutuhkan para korban, dan lain sebagainya butuh alat transportasi yang efektif. Jika jalan darat dan air rusak dan tertutup, maka harus bisa melewati jalur udara.
7. Bantuan Tim Penolong
Untuk menyelamatkan para korban bencana yang masih terperangkap di dalam reruntuhan, dibutuhkan tim khusus seperti tim sar beserta tim medis. Tim penolong akan membantu korban-korban yang butuh bantuan segera dengan bermodalkan keterampilan yang telah dikuasai.
8. Bantuan Pengamanan
Polisi harus datang dan sigap membatu mengamankan aset-aset para korban bencana alam dan juga aset-aset milik pemerintah yang ada di wilayah bencana. Tidak menutup kemungkinan akan terjadinya penjarahan masal, perampokan, pencurian, pengrusakan, dan lain-lain. Akan percuma bila tidak ada yang menjaga ketertiban para korban bencana karena bisa merusak kegiatan bantuan korban bencana yang telah ada.
9. Bantuan Kesehatan
Setelah bencana alam terjadi biasanya akan muncul orang-orang yang terluka baik secara fisik maupun mental. Mereka butuh pertolongan medis yang memadai. Jika tidak mampu, maka perlu dirujuk ke rumah sakit. Kondisi kesehatan lingkungan yang biasanya buruk di tempat pengungsian juga perlu ditanggulangi agar tidak menyebabkan penyebaran penyakit yang berbahaya.
10. Bantuan Modal
Untuk kembali bisa memulai hidup yang baru pasca bencana alam/ tragedi kemanusiaan, para korban bencana perlu diberikan suatu bantuan finansial agar bisa mencukupi kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan lainnya seperti dulu sebelum terjadinya bencana. Para korban yang kehilangan mata pencaharian pun juga perlu dimodali atau diberi pekerjaan agar bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bencana sepanjang 2012
![]() |
| Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif (ANTARA/Syafril Adriansyah) |
" kejadian bencana tahun 2012 adalah 730 kejadian "
Bahkan, berdasarkan catatan BNPB selama tahun 2012, bisa dikatakan tidak ada bencana besar yang melanda Indonesia.
Kepala BNPB Syamsul Maarif menyebutkan selama tahun 2012 ada 730 kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa wilayah di Tanah Air.
"Data sementara kejadian bencana tahun 2012 adalah 730 kejadian. Namun diperkirakan terdapat sekitar 1.200 kejadian jika semua data yang masih terdapat di kementerian-lembaga, BPBD, TNI, Polri dan pemda dapat dikumpulkan serta dilakukan verifikasi," katanya.
Ia juga mengatakan bahwa penurunan kejadian bencana sangat dipengaruhi oleh faktor alam, yaitu cuaca, iklim dan geologi.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh BNPB diketahui bahwa selama tahun 2012 bencana alam telah mengakibatkan sebanyak 487 orang meninggal, 675.798 orang mengungsi/menderita dan 33.847 rumah rusak dimana 7.891 rumah rusak berat, 4.587 rusak sedang, dan 21.369 rusak ringan.
Sekitar 85 persen adalah bencana hidrometeorologi yakni banjir, longsor, kekeringan, puting beliung.
"Dibandingkan dengan rata-rata bencana hidrometeorologi selama 2002 - 2011 yaitu sekitar 80 persen, maka bencana hidrometeorologi mengalami peningkatan," kata Syamsul.
Kejadian bencana terbanyak adalah puting beliung 259 kejadian atau 36 persen, banjir 193 kejadian atau 26 persen dan tanah longsor 138 kejadian atau 19 persen.
"Berdasarkan waktu kejadian, Januari adalah puncak dari kejadian bencana, yang kemudian menurun pada Februari, tetapi Maret hingga April terjadi kenaikan lagi," katanya.
Puting beliung
Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan bahwa tren kejadian puting beliung cenderung mengalami peningkatan di setiap tahunnya. Selama 2002 - 2011 meningkat 28 kali lipat.
Ia juga mengatakan, terdapat 404 kabupaten-kota dengan jumlah penduduk 115 juta jiwa tinggal di daerah rawan, sedang hingga tinggi, dari bahaya puting beliung di Indonesia.
Sebaran rawan tinggi puting beliung di sepanjang barat Sumatera, Pantura Jawa, NTT, selatan Sulawesi Selatan.
"Bencana puting beliung menyebar di perkotaan dan pedesaan. Di masa mendatang ancamannya akan makin meningkat seiring meningkatnya pengaruh perubahan iklim global dan antropogenik," katanya.
Dia juga mengatakan, hingga saat ini sistem peringatan dini puting beliung belum tersedia sehingga penyampaikan informasi kepada masyarakat masih terbatas.
"Hal ini disebabkan kecilnya cakupan terjangan puting beliung hanya kurang dari dua kilometer, waktu kejadian kurang dari 10 menit dan tidak semua awan cumulonimbus selalu menimbulkan puting beliung sehingga saat ini BNPB, BMKG, dan BPPT telah melakukan diskusi untuk mencarikan solusi dari ancaman bencana ini," katanya.
Sementara itu , Sutopo juga mengatakan bahwa bencana geologi yaitu gempa bumi, tsunami dan erupsi gunungapi yang bersifat merusak selama tahun 2012 kejadiannya sedikit.
"Selama tahun 2012 terdapat 363 gempa bumi dengan kekuatan 3,6 SR. Sementara gempa besar dengan kekuatan 8,3 SR juga pernah terjadi selama tahun 2012 tetapi tidak merusak karena berada di bagian luar dari daerah pertemuan lempeng dan berada pada dalam yang besar," katanya.
Dia juga menambahkan, terdapat sekitar 11 kejadian gempa merusak yang umumnya di darat dengan korban 17 orang meninggal, 559 orang mengungsi dan 3.615 rumah rusak, dimana 641 rusak berat, 675 rusak sedang, dan 2.299 rusak ringan.
Penanggulangan Bencana
Sutopo mengatakan bahwa selama tahun 2012, upaya penanggulangan bencana sudah cukup banyak dilakukan antara lain pembentukam badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dimana hingga sekarang sudah terbentuk 33 BPBD provinsi dan 366 BPBD kabupaten-kota.
Selain itu, dari total dana siap pakai (on call) Rp450 miliar sudah didistribusikan sebanyak Rp400 miliar ke lebih dari 75 provinsi dan kabupaten-kota dan Rp50 miliar menjadi dana cadangan hingga Januari 2012.
Selain itu, BNPB juga telah menyusun rencana kontinjensi bencana banjir, longsor, gunung api, gempa dan tsunami serta masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami tahun 2013-2017.
"Sebanyak 30.320 relawan juga telah tersertifikasi untuk membantu proses penanggulangan bencana dan melakukan pelatihan bagi BPBD! TNI, relawan, jurnalis dan lain sebagainya.
Selain itu, tekait dengan pengurangan risiko bencana telah disusun rencana penanggulangan bencana Dan penyusunan peta risiko dan wilayah-wilayah yang rawan bencana.
Kesiagaan masyarakat
Sementara itu, berdasarkan hasil kajian BNPB terhadap kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda dalam menghadapi bencana di 33 kabupaten-kota di Indonesia menunjukkan hasil bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan Pemda di semua daerah masih rendah.
"Indikator pengetahuan bencana telah meningkat tetapi indeks kebijakan, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini dan mobilisasi sumber daya masih rendah," katanya.
Hal tersebut kata dia, menjadi tantangan besar bagi Bangsa Indonesia. Di satu sisi ancaman nirmiliter yaitu bencana yang sangat nyata mengancam kehidupan masyarakat. Bahkan ancamannya menunjukkan tren meningkat. Namun kesiapsiagaan masih rendah. Akibatnya jumlah korban dan kerugian akibat bencana juga berpotensi meningkat di masa mendatang jika tidak ada perubahan yang signifikan.
"Beberapa faktor penyebab adalah terbatasnya anggaran penanggulangan bencana. Secara nasional, Rata-rata setahun terdapat Rp12,5 triliun yang tersebar di 37 kementerian-lembaga untuk penanggulangan bencana," katanya.
Sementara di BNPB hanya terdapat Rp1,34 triliun per tahunnya, sisanya Rp11,16 triliun ada di 36 kementerian-lembaga.
"Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di seluruh Indonesia memerlukan Rp30 triliun pertahun. Namun ketersediaan dana cadangan penanggulangan bencana Rp4 triliun sehingga pelaksanaan rehablitasi dan rekonstruksi menjadi lama," katanya.
Sementara itu, untuk melakukan antisipasi atau penanggulangan bencana tahun 2013, maka semua kegiatan dilakukan baik untuk kesiapsiagaan dan pencegahan, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas BNPB/BPBD.
Selain itu, latihan, gladi, penyusunan peta risiko, penyusunan rencana kontinjensi penguatan Satuan Reaksi Penanggulangan Bencana di wilayah Barat dan Timur, sosialisasi, pendidikan kebencanaan, pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dan lainnya.
(W004)
Kamis, 13 Januari 2011
Inilah Kumpulan Foto Bencana Alam, Indah Tapi Mengerikan
Supercell Thunderstorm in Montana
Chaiten Volcano – Chana, Chile (May 2008)
Forest Fire – Dolginino, Russia (Aug. 2010)
Undersea Volcano – Coast of Tonga (March 2009)
Kliuchevskoi Volcano – (Russia Sept. 1994)
Double Cyclone – Iceland (Nov. 2006)
Flooding (from Typhoon ‘Ketsana’) – Manila, Phillippines (Sept. 2009)
Tornado – Oklahoma, United States (May 2010)
Hurricane Felix – Honduras (Sept. 2007)
Lightning Strike – New York City (2010)
Mt. Saint Helens Volcano – Washington, United States (May 1980)
Flooding – Cedar Rapids, Iowa (June 2008)
Mount Merapi Volcano – Indonesia (Nov 2010)
Chaiten Volcano – Chana, Chile (May 2008)
Dust Storm – China (April 2001)
Mt. Saint Helens Volcano – Washington, United States (Aug. 1980)
Lightning Storm – Roswell, New Mexico (July 2010)
Brush Fires – Sylmar, California (Sept. 2009)
Eyjafjallajokull Volcano – Iceland (April 2010)
Flooding (Tropical Storm Agatha) – Guatemala (May 2010)
Undersea Volcano – Tonga (March 2009)
Wildfires – California (Sept. 2009)
Dust Storm – Australia (Sept. 2009)
Flooding – Iowa, United States (June 2008)
Mt. Etna Volcano – Sicily, Italy (Oct. 2002)
Eyjafjallajokull Volcano – Iceland (April 2010)
Brushfires – Victoria, Australia (Feb 2009)
Tornado – Iowa, United States (June 2008)
Chaiten Volcano – Chana, Chile (May 2008)
Storm Clouds – South Dakota, United States (2009)
Gelombang Tsunami (2004)

Pusaran Tsunami Mentawai 26 Oktober 2010

Pasca Tsunami Mentawai Oktober 2010

Banjir Bandang di Australia Januari 2011

Kota Brisbane Australia hampir terbenam Januari 2011

Sampai disini dulu.....nanti ditambah lagi......
Brisbane, Kota yang Terendam dan Kisah Haru
THE INDEPENDENT
REPUBLIKA.CO.ID, Brisbane Tenggelam. Sungai di jantung kota yang biasanya mengalir tenang kini murka dan menelan bagian kota serta menciptkan banjir terburuk di ibu kota Queensland dalam 40 tahun terakhir.
Sekitara27 ribu rumah porak-poranda dalam semalam–12 ribu tenggelam sepenuhnya–ketika Sungai Brisbane ditelan oleh hujan lebat selama berpekan-pekan, mencapai ketinggian 6 meter. Ketika permukaan sungai mencapai puncak tertinggi sekitar pukul 5.15 pagi hari ini, namun ketinggian sekitar 1 meter lebih rendah dari yang dicemaskan–masih lebih rendah dari banjir besar terakhir pada 1974.
“Saya tidak pernah melihat musibah semacam ini ketika masih kecil,” ujar Perdana Menteri Queensland, Anna Bligh, seperti yang dikutip The Independent, Kamis (13/1) yang mengamati air berputar-putar di lingkungannya. Anna Baligh, mengatakan pagi ini negara bagian itu melakukan upaya rekonstruksi dalam proporsi layaknya “pascaperang”. Ia mengatakan orang-orang dalam pusat evakuasi sepertinya tidak akan mampu kembali ke rumah masing-masing dalam bulan-bulan mendatang.
Walikota Brisbane, Campbell Newman, mengatakan puncak lebih rendah dari yang dicemaskan telah menyelamatkan banyak gedung perkantoran bertingkat dan apartemen. Ketinggian air telah menurun di area-area terkena dampak terburuk, namun ancaman lain membayang.
Kemarin, pusat kota senyap tidak seperti biasa dengan banyak toko dibentengi kantong-kantong pasir. Banyak jalan yang telah tergenang air ditutup, sejumlah kecil turis yang penasaran berkeliling di jalan-jalan. Sepanjang hari permukaan sungai menaik, menggenangi blok-blok perkantoran dan apartemen tepi sungai begitu juga kantor polisi di dekat kawasan.
Kota terbesar ketiga di Australia ini hanya memiliki sedikit waktu untuk bersiap. Brisbane diprediksi dalam selamat dari banjir terburuk yang telah menerjang beberapa kota di Queensland, menghancurkan infrastuktur dan menghambat industri gemuk penambangan batu bara yang menjadi andalan negara bagian tersebut. Namun badai menghantam kota Toowoomba, dekat Brisbane, dan air dari banjir bandang itu hanya memiliki satu arah, menuju pantai, yang berarti melintasi Brisbane.
Selamatkan Dulu Adik Saya
Di tengah musibah, kisah seorang bocah lelaki mencuat, mengharukan negara itu. Ketika banjir menghantam kota Toowomba, pada Senin, Jordan Rice, 13 tahun, terjebak dengan ibunya dan adik lelakinya dalam mobil mereka. Saat sebuah truk mendekat untuk menarik mobil itu ke tempat aman, Jordan mengatakan pada pengemudi truk untuk menyelamatkan saudaranya dulu, Blake, 10 tahun
Blake selamat, namun para penyelamat tak mampu kembali untuk Jordan dan ibunya, yang akhirnya meninggal. Ayah para bocah, John Tyson berkata “Saya hanya dapat membayangkan apa yang terjadi di dalam sana ketika ia memberikan nyawanya untuk menyelamatkan adiknya, meskipun amat ketakutan dalam air. Ia adalah pahlawan kecil kami.”
Kerusakan Sejauh ini
22 Orang meninggal akibat Banjir yang menerjang sejak November akhir. Sedikitnya 43 orang dilaporkan hilang.
Rp45,4 triliun, berdasar estimasi PM Anna Bligh, jumlah anggaran sekurangnya yang dibutuhkan untuk membersihkan dan membangun kembali Queensland
127.000 rumah kini tak dialiri listrik karena pembangkit dimatikan untuk alasan keamanan.
4.000 orang dipaksa mengungsi dari rumah dan saat ini tinggal di pusat-pusat evakuasi.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber dari http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/11/01/13/158479-brisbane-kota-yang-terendam-dan-kisah-haru
Dahsyatnya Bencana Alam
ITULAH yang sekarang ini kita sedang saksikan terjadi di Australia. Hujan lebat yang tidak henti-hentinya mengguyur wilayah Queensland membuat seluruh kawasan di negeri itu dilanda banjir yang sangat dahsyat.
Kota Brisbane bahkan praktis lumpuh. Banjir yang melanda kota itu menyapu habis semua yang ada di depannya. Mobil-mobil yang sedang diparkir bak seperti mainan yang disapu habis oleh banjir dahsyat itu.
Bencana alam seperti itu jarang terjadi di Australia. Namun semua itu kini benar-benar ada dan harus dialami masyarakat Australia. Fenomena alam mengubah segalanya dan merepotkan masyarakat Australia.
Pemerintah Australia benar-benar diuji kepemimpinannya. Mereka bukan hanya dituntut untuk bisa menyelamatkan nyawa para warga yang terkena banjir, tetapi bagaimana menyediakan anggaran untuk membangun kembali bukan hanya kota, tetapi negara bagian Queesnsland.
Banjir yang melanda Australia lebih besar dari kerusakan yang dialami New Orleans di Amerika Serikat ketika dilanda Badai Katrina. Padahal, itu sudah membuat Pemerintah AS kesulitan untuk bisa membangun kembali kota yang hancur akibat terjangan badai.
Pada situasi seperti inilah kepemimpinan seorang pemimpin akan terlihat. Perdana Menteri Julia Gillard diuji untuk bisa menggerakkan pemerintahan menangani persoalan. Ia bukan hanya sekadar harus berada di dekat para korban banjir, tetapi mengambil keputusan.
Dalam situasi serba krisis, keputusan yang diambil bukanlah antara baik dan buruk. Keputusan kadang terasa muskil, karena pilihannya antara yang buruk dan kurang buruk. Namun demi kelangsungan kehidupan bernegara, keputusan harus diambil.
Banyak pemimpin yang justru ragu mengambil keputusan yang sangat pelik. Bahkan seringkali keputusannya tidak dilaksanakan. Akibatnya, rakyat yang sudah menjadi korban bencana semakin menderita lagi.
Semua mata dunia tertuju ke Australia sekarang ini. Semua orang merasa prihatin dengan penderitaan masyarakat di Queensland. Semua orang menunggu langkah yang akan diambil PM Gillard untuk menyelesaikan persoalan yang mengimpit.
Kita bukan hanya harus juga merasa ikut prihatin, tetapi juga belajar dari pengalaman buruk Australia. Kita mempunyai potensi ancaman yang tidak kalah menakutkan dibandingkan Australia. Di awal tahun ini biasanya curah hujan sangat tinggi di Indonesia.
Sekarang kita melihat apa yang sedang dialami masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Jutaan meter kubik abu vulkanik yang dilepaskan saat Gunung Merapi meletus menjadi ancaman banjir lahar dingin. Hujan besar yang mengguyur daerah puncak gunung membawa semua yang ada di atas untuk turun ke bawah.
Kita harus mengingatkan hal itu karena potensi ancamannya luar biasa. Namun seperti biasa, kita suka bermain-main dengan maut. Banyak warga yang tidak mau menjauh dari daerah bahaya.
Padahal kita tahu bagaimana banjir bandang ketika datang tidak pernah ada yang mendukung. Banjir itu tidak hanya membawa abu vulkanik dengan volume yang sangat besar, tetapi bebatuan berukuran raksasa yang ikut terbawa turun.
Dalam beberapa hari ini kita lihat bagaimana jalur Yogyakarta-Magelang terputus karena terjangan banjir lahar dingin. Bahkan sudah jatuh korban jiwa akibat banjir yang turun dari puncak Gunung Merapi.
Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan tindakan pencegahan yang memadai bagi terhindarnya korban lebih banyak? Itulah yang kita katakan bahwa kita sering bermain-main dengan maut. Kita tidak cukup memberi pengertian kepada masyarakat bahwa banjir bandang yang bisa terjadi sangat membahayakan jiwa masyarakat.
Ketidakmampuan kita untuk meyakinkan masyarakat akan bahaya yang bisa mengancam sangatlah memprihatinkan. Kita selalu menjadi bangsa yang terlambat untuk menyesal. Baru ketika musibah datang, kita menyayangkan.
Padahal kita diajarkan bahwa menyesal kemudian tiada berguna. Kita harus berupaya lagi untuk lebih keras menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga keselamatan jiwa. Bencana alam bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Ketika bencana alam itu datang, maka sulit untuk bisa kita tahan.
Sumber dari http://www.metrotvnews.com/read/tajuk/2011/01/13/640/Dahsyatnya-Bencana-Alam/tajuk
Harapan Perbaikan Ekonomi 2011
Oleh : Bintang MN
Tahun 2010 sudah berlalu dan kini kita menginjak tahun baru 2011. Segala permasalahan yang terjadi pada tahun 2010 mestinya harus dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran dan koreksi diri dalam menghadapi tahun 2011 ini.
Bagaimanapun hampir selama tahun 2010, beragam persoalan berturut-turut menimpa bangsa ini. Mulai dari bencana alam, bencana politik dan bahkan juga bencana hukum yang kesemuanya menjadi beban dalam perjalanan roda pemerintahan menuju kondisi yang lebih baik.
Kita tentu banyak berharap bahwa di tahun yang baru, segala sesuatunya dapat lebih baik lagi. Termasuk, dalam kinerja perekonomian nasional, sepantasnya pencapaian kinerjanya dapat meningkat secara signifikan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Harapan itu tentu tidak mengada-ada. Pasalnya, Indonesia adalah salah satu negara di dunia bersama Cina dan India yang mempunyai kinerja baik dibandingkan dengan negara-negara lain di tengah memburuknya perekonomian global.
Kita ingin mempertahankan predikat tersebut dan bahkan meningkatkannya secara lebih baik lagi sehingga pencapaian itu tidak sekadar angka-angka, tetapi bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. Bank Indonesia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada 2010 mencapai 6 persen. Pertumbuhan tersebut dinilai jauh lebih baik ketimbang 2009. Pertumbuhan 2010 tersebut diimbangi dengan strukturnya yang lebih berimbang di mana ekspor dan investasi tumbuh lebih kuat.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2011 akan terakselerasi dan dapat mencapai 6,0 persen-6,5 persen, selanjutnya pertumbuhan ekonomi 2012 juga meningkat, diperkirakan mencapai 6,1 persen-6,6 persen. Pertumbuhan tersebut didukung konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang membaik, serta masih solidnya kinerja ekspor seiring dengan masih kuatnya pertumbuhan di negara mitra dagang, terutama di kawasan Asia. Sementara, inflasi pada 2011 dapat diarahkan pada kisaran sasarannya, yaitu 4 persen-6 persen pada 2011 dan 3,5 persen-5,5 persen pada 2012.
Saat menyampaikan nota keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2011 di depan DPR, 16 Agustus 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2011 akan mencapai 6,3 persen.
Pada perjalanannya, pemerintah mengubah pertumbuhan 2011 itu menjadi 6,4 persen. Perubahan asumsi tersebut telah mempertimbangkan proses pemulihan ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa yang tidak seperti diperkirakan dengan kemungkinan pertumbuhan investasi, ekspor, serta konsumsi domestik yang membaik. Kita tentu menyambut baik keyakinan pemerintah akan kemampuannya untuk mengejar target pertumbuhan yang lebih tinggi, menjadi 6,4 persen.
Namun, pemerintah tentunya telah mempertimbangkan berbagai kendala dan risikonya. Idealnya, pencapaian pertumbuhan tersebut juga telah memperhitungkan dampak terhadap sektor lain, seperti penyerapan tenaga kerja, angka kemiskinan, dan pemerataan di daerah-daerah. Seperti diketahui, salah satu yang sering mendapat perhatian ketika membicarakan pencapaian pertumbuhan adalah penyerapan tenaga kerja.
Lazimnya, satu persen pertumbuhan ekonomi akan menciptakan lapangan kerja buat 400.000 orang. Dengan demikian, dengan pertumbuhan ekonomi 2011 yang dipatok 6,4 persen, berarti akan ada lowongan kerja buat 2,56 juta orang. Namun, elastisitas tenaga kerja semakin menurun, karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyerap 200.000 orang tenaga kerja per tahun.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat juga belum mampu meningkatkan kualitas tenaga kerja. Oleh karena itu, kita berharap pertumbuhan ekonomi 2011 tidak sekadar tumbuh pesat dan cepat. Namun, hal-hal lain seperti penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan tentunya harus tetap menjadi prioritas. Apa artinya pertumbuhan tinggi tetapi tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat.
Hal yang sama
Selain itu, hal yang sama terkait dengan adanya pertumbuhan yang mengalami perbaikan juga terjadi dalam industri manufaktur. Hal ini didasarkan pada penjelasan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang mengatakan bahwa pertumbuhan industri manufaktur Indonesia terus membaik.
Namun di sisi lain, ada kritik dari lembaga kajian ekonomi Indef. Hasil penelitian lembaga ini mengatakan, meskipun manufaktur menyetor persentase terbesar terhadap Produk Domestik Brutto-yakni sebesar 26,4 persen-tapi pemerintah diharapkan lebih serius menangani sektor manufaktur karena pertumbuhannya sedikit menurun dibanding tahun 2025. Industri manufaktur memang penting bagi kemajuan sebuah bangsa.
Jika dipelajari negara-negara di dunia dan dalam konteks perdagangan internasional, biasanya tingginya daya saing bangsa juga ditentukan oleh kedigdayaan industri manufaktur sebuah negara. Persaingan di industri manufaktur dunia memang sangat ketat, karena semua negara berlomba menjual barang jadi mereka dan tidak mau lagi menjual bahan mentah. Dengan ketatnya persaingan antarnegara dalam perdagangan hasil manufaktur, maka cukup banyak terjadi proteksi, bahkan di negara-negara maju.
Negara maju umumnya hanya mau mengimpor barang mentah dari negara-negara berkembang dan mereka berusaha memenuhi kebutuhan sendiri dalam hal produk-produk manufaktur. Bagi negara berkembang yang lebih belakang masuk ke manufaktur dibanding negara-negara maju, dalam banyak hal memang sulit mengejar negara maju. Hal ini disebabkan oleh start yang memang sudah tertinggal. Jadinya teknologinya ketinggalan, ketersediaan tenaga ahli/profesional juga ketinggalan, soal efisiensi juga menjadi masalah, dan permodalan terbatas.
Negara-negara maju juga malas mengimpor hasil manufaktur dari negara berkembang karena kualitasnya lebih buruk. Negara maju juga tetap ingin menghidupi warga negaranya dengan menggenjot industri manufaktur. Mereka lebih suka mengimpor barang mentah dari negara lain-umumnya negara berkembang-dengan harga murah dan kemudian mereka mengolahnya sendiri menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi.
Maksudnya, selain dari efisiensi dan ingin yang berkualitas, mereka juga harus mempekerjakan warga negaranya yang butuh penghidupan. Dengan demikian, bagi negara-negara berkembang akan selalu dihadapkan kepada kesulitan-kesulitan dan dilema. Misalnya jika mereka mengekspor manufaktur akan cenderung ditolak karena alasan kualitas maupun kejenuhan produk di dalam negara tujuan ekspor tersebut. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan rakyatnya akan barang-barang jadi. Mereka lebih suka mengimpor barang mentah dari negara lain.
Bagi negara berkembang, mau tidak mau sering seperti dipaksa untuk menjual/ mengekspor barang-barang atau komoditas mentah mereka. Atau setidaknya setengah jadi, untuk diolah sendiri di negara-negara tujuan. Akibat dari hal ini adalah negara berkembang seperti Indonesia harus menguras sumber daya alamnya untuk diekspor ke negara-negara maju sebagai bahan baku industri.
Pengurasan sumber daya alam ini berakibat pada menipisnya cadangan dan rusaknya lingkungan hidup. Ditambah lagi, dengan harus hanya mengekspor bahan mentah, Indonesia tidak menikmati nilai tambah dari komoditas yang dijualnya. Indonesia juga kehilangan kesempatan memberi pekerjaan kepada warga negaranya di sektor olahan.
Dari sisi ini kehilangan kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah bagi Indonesia menjadi besar. Dan ini juga menimpa negara-negara berkembang lain. Hal ini menjadi tantangan berikutnya bagi Indonesia dalam rangka mewujudkan perbaikan ekonomi di tahun 2011 ini.***
Penulis adalah Pemerhati ekonomi dan masalah sosial kemasyarakatan, tinggal di Medan.
Sumber dari http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=82408:harapan-perbaikan-ekonomi-2011&catid=78:umum&Itemid=139

